Weekend adalah hari yang saya dan anak-anak tunggu. Bagaimana tidak? Weekend adalah hari untuk melakukan sesuatu yang tidak seperti biasanya kami lakukan. Pagi hari selalu dimulai dengan bangun siang dan bermalas-malasan. Ini penyakit di weekend yang salah satunya harus dibasmi. Saya sebelum menikah dan punya anak, sangat terbiasa dengan bangun siang. Tidur yang larut malam, nonton televisi sampai jam 1 dini hari lanjut tidur di jam 2 subuh lalu bangun jam 9 pagi. Ohh … bangun kesiangan saat masih gadis masih tidak masalah, paling hanya mama saja yang mengomel seharian karena tidak dibantuin beberes rumah. Sisanya melanjutkan hari dengan tetap bermalas-malasan dengan segala sesuatunya yang sudah tersedia di rumah, makan tinggal makan sudah ada lauk di meja makan, mau camilan tinggal ambil d kulkas, mau minum tinggal buat … nikmatnya yah menikmati lazy weekend dengan segala yang sudah tersedia.
Setelah memiliki buah hati, kebiasaan itu mulai berubah. Kalau mau begadang malam harus terima konsekuensi untuk tetap bangun pagi maksimal jam 7 pagi. Alarm alami yang membuat saya harus tersadar dari mimpi indah saya semalam, mimpi yang belum sempat menjadi sempurna yang sudah di”kacaukan” oleh kedua buah hati saya. Anak-anak memang terbiasa bangun pagi, mandi pagi, minum susu pagi, sarapan pagi … hahahah ternyata dengan sendirinya terjadwal otomatis pada mereka.
Tak selamanya kami menikmati weekend bersama papa seperti weekend ini, papa harus tugas memotret acara pernikahan kliennya lalu lanjut ke acara workshop fotografi dimana papa adalah salah satu panitianya. Hmmm mau tak mau … kami berusaha menikmati segala sesuatunya dengan berada di rumah saja.
Banyak seharusnya yang bisa saya lakukan bersama anak-anak. Namun dengan keterbatasan waktu yang ada dan seabrek pekerjaan yang ada ditambah tidak punya asisten di rumah membuat saya terkadang gampang naik darah dengan ulah anak-anak yang makin pintar. Apa yang bisa saya lakukan lagi, saya hanya bisa menyesali apa yang sudah saya lakukan kepada mereka, meminta maaf saat mereka sudah tertidur dalam buaian saya. Mengomeli … mengancam … memukul … menjewer … sebenarnya bukan keinginan saya tetapi ditengah situasi yang saya hadapi dengan pikiran saya yang belum melakukan ini dan itu tugas rumah tangga lainnya membuat saya tidak dapat berpikir jernih. Berbicara panjang lebar kepada anak-anak disaat mereka usil atau memberi pengertian mengenai do and don’t terkadang saya tak mampu. Tak mampu karena saya merasa tak punya waktu untuk itu. Otak saya berubah menjadi “otak reptil” yang siap menerkam mereka jikalau mereka sedang membuat “rusuh”.
Banyak teori yang yang saya baca dan beberapa workshop tentang parenting yang saya ikuti tetapi ternyata tidak segampang mendengar teorinya yah. Weekend menjadi nightmare bagi anak-anak kalau mamanya sudah mulai mengomel seharian. Weekend … membuat saya tersadar, membuat saya introspeksi diri dan berusaha memperbaiki kembali hubungan saya dengan anak-anak. Saya sadar bahwa saya tidak bisa merubah sesuatu sebelum saya merubah pribadi saya. Saya akan mencoba kembali untuk memanage waktu saya dengan lebih baik, bangun lebih pagi lagi. Saat segala yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan saya, akan saya ingat untuk menarik nafas dan menghembuskannya sebagai bentuk untuk mengeluarkan segala yang negatif dalam diri saya.
It’s not easy but I believe practice makes perfect … and life makes me practice a lot.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar